Senja merayap perlahan, menukik tajam, menyelimuti apartemen Rey dengan warna jingga keunguan. Di sofa ruang tengah, Adelia, sepupu Rey yang selalu memesona, tampak gelisah. Rambut sebahu yang biasanya rapi, kini sedikit berantakan akibat sering ia usap. Adelia, dengan umurnya yang menginjak dua puluh lima tahun, memancarkan aura dewasa sekaligus kerapuhan yang tak biasa. Dia seorang arsitek muda yang kariernya tengah menanjak, namun malam ini, semua kesuksesan itu seolah luntur di hadapan Rey. Adelia datang untuk mencari sandaran, untuk mencurahkan isi hatinya yang sedang kalut.
“Rey,” Adelia memulai, suaranya pelan dan bergetar, “aku bingung banget.”
Rey, yang duduk di sofa seberangnya, menaruh cangkir kopinya di meja. Dia selalu tahu bagaimana membuat Adelia merasa nyaman. “Bingung kenapa lagi, Del? Soal proyek kantor?”
Adelia menggeleng, matanya menerawang ke luar jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala. “Bukan… ini soal perjodohan.”
Rey menghela napas. Dia tahu betul masalah ini. Orang tua Adelia memang sudah lama ingin menjodohkan putrinya dengan anak kolega mereka. “Yang dari keluarga Hidayat itu? Kenapa lagi?”
“Aku… enggak sreg, Rey,” ucapnya. “Cowoknya sih baik, mapan, tapi… enggak ada chemistry. Rasanya hambar. Aku enggak bisa jalanin hidup sama orang yang kayak gini.”
“Kalau aku jadi kamu, ya enggak usah dipaksain. Jangan nurutin orang lain terus, Del. Ini hidup kamu. Kebahagiaan kamu yang nentuin,” jawab Rey, mencoba memberi solusi.
Adelia menoleh, menatap Rey dengan mata sayu. “Tapi… apa kamu percaya sama pernikahan, Rey?”
Rey tersenyum miring. “Percaya sih, ya, percaya aja. Tapi bukan buat sekarang. Aku lebih suka jalanin hidup tanpa ikatan yang ribet. Pacaran sih oke, tapi buat urusan ranjang, aku lebih suka free sex. Sama-sama suka, sama-sama nikmatin, enggak ada beban sama sekali. Semuanya murni buat kesenangan, bukan tuntutan,” Rey menjelaskan, suaranya terdengar santai dan jujur.
Adelia terkejut mendengar pengakuan Rey. Dia membantah keras, “Rey, kok kamu ngomong gitu? Itu… itu jalan yang salah. Enggak bener!”
“Lo aja belum ngerasain, Del, makanya ngomong gitu. Mana lo tahu kenikmatan yang sebenernya?” Rey menantangnya balik. “Lagian, emang lo pernah ngerasain yang namanya seks?”
Adelia terdiam, wajahnya memerah. Dia memang belum pernah. “Belum,” jawabnya lirih.
“Mau aku ajarin rasanya kayak gimana?” tanya Rey, suaranya makin rendah dan menggoda.
Adelia hanya terdiam. Dia tak menjawab, tapi tatapan matanya penuh rasa ingin tahu. Rey paham, Adelia tak butuh kata-kata. Gerak tubuhnya sudah cukup menjadi jawaban.
Rey beranjak dari sofanya, perlahan-lahan mendekati Adelia. Dia duduk di sampingnya, meletakkan tangannya di bahu Adelia, memeluknya dengan hangat. Jantung Adelia berdegup kencang. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Rey, dan wangi maskulin yang begitu akrab menusuk hidungnya.
“Kalau kamu izinin aku, aku bakal tunjukin ke kamu, Del, gimana rasanya,” bisik Rey di telinga Adelia.
Adelia hanya meliriknya, bisu. Tubuhnya menegang, namun ia tidak menolak. Rey menganggap keheningan ini sebagai persetujuan. Dengan perlahan, jari-jemari Rey mulai meraba kancing-kancing kemeja Adelia. Satu per satu, kemeja putih itu terbuka. Di baliknya, terlihat bra hitam yang membingkai indah payudara Adelia yang tampak begitu berisi.
Rey melucuti kemeja Adelia hingga terlepas sepenuhnya. Dia meremas payudara Adelia yang masih tertutup bra, memberikan sentuhan yang membuat Adelia tersentak. Plek! Suara detak jantung mereka berdua seolah berpacu. Adelia tidak lagi terdiam. Dia mendongak, matanya terpejam. Tangan Rey bergerak lebih jauh, menyelusup ke dalam bra Adelia. Sruk! Jari-jarinya menyentuh kulit yang lembut itu. Payudaranya semakin mengeras di genggaman Rey.
Pada saat yang sama, Adelia mulai membalas. Ia mencium leher Rey dengan penuh hasrat. Sluurpp! Terdengar suara kecupan yang pelan. Reaksi Adelia yang tak terduga ini membakar gairah Rey. Ia melepaskan bra Adelia, dan benda itu terlepas dari tubuh Adelia.
Tanpa menunggu lebih lama, Rey membenamkan wajahnya di antara belahan dada Adelia. Ia mencium payudara yang indah itu. Sluurrp! Lidahnya menyapu puting Adelia yang berwarna cokelat kemerahan dan kini menegang. Tlekk! Puting itu keras, seakan-akan membalas setiap sentuhan lidah Rey.
Rey kemudian berusaha melepaskan rok Adelia. Srekk! Rok itu meluncur dengan mudah ke lantai. Tangannya mengelus paha Adelia yang mulus, naik perlahan hingga mencapai celana dalam Adelia. Jari-jemari Rey menyelusup ke dalam celana dalam Adelia. Sruuup! Jari telunjuknya langsung terasa basah. Adelia sudah siap.
Rey menyentuh klitoris Adelia dengan ujung jarinya. Krekk! Jari lainnya masuk ke dalam lubang Adelia.
“Akkkhhh!” Adelia menjerit kecil, suaranya tertahan, nyaris tak terdengar, ketika Rey mulai memasuki tubuhnya dengan jari.
Rey menghentikan gerakannya. Dia membaringkan Adelia di sofa. Rey melucuti celana dalamnya dan mulai membelai labia Adelia dengan lembut. Adelia memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan Rey. Mmmhhh… Desahan-desahan halus mulai keluar dari bibirnya.
Klik Disini Untuk Lanjut
Klik Disini Untuk Lanjut
0 Komentar