Kakak Ipar Cantik Ngajak ML di Kamar Mandi
Pagi itu, aku terbangun dari tidur siang. Mata masih berat, tapi ada satu hal yang langsung bikin semangatku naik. Di sampingku, Kak Ratih lagi sibuk mainin hape sambil senyum-senyum kecil. Ah, rasanya seperti mimpi bisa tidur bareng kakak ipar yang selama ini aku kagumi dalam diam. Gak cuma tidur, tapi tadi siang, kami habis main kuda-kudaan yang bikin tubuhku lemas total.
“Kak, udah bangun dari tadi?” tanyaku dengan suara serak. Aku sedikit meregangkan badan, tanganku tanpa sadar melingkar di pinggangnya, mendekapnya lebih erat.
Kak Ratih noleh, senyumnya makin lebar. “Udah, dari tadi, Dek. Aku gak tega mau bangunin, kamu pulas banget.” Tangannya balas mengusap rambutku. “Habisnya enak, sih, meluk kamu gini. Hangat.”
Aku terkekeh pelan. “Padahal tadi siang Kakak yang bikin aku capek, lho.”
Dia mencubit perutku gemas. “Siapa suruh kamu kuat banget? Aku jadi ketagihan, ‘kan?” godanya, matanya mengerling nakal. Kami berdua diam sejenak, menikmati keheningan yang nyaman itu. Dia bangkit dari kasur, gerakannya santai sekali. Baju kaos longgar yang dia pakai bikin putingnya yang menonjol terlihat jelas. Mataku langsung fokus ke sana, gak berkedip sama sekali.
“Aduh, Dek, jangan diliatin gitu, aku malu,” katanya sambil tertawa kecil, pura-pura menutupi dadanya. “Sana mandi, aku udah siapin makan siang, lho.”
“Kenapa gak bangunin aja, sih?” tanyaku, masih rebahan di kasur. “Aku kan gak enak kalau tidur sendirian.”
Kak Ratih nyamperin aku, tangannya ngusap pipiku pelan. “Aku tau kamu capek, makanya aku biarin. Lagian, aku juga tadi habis bersihin kamar, jadi gak bosen nungguin kamu. Udah, sana mandi, ntar keburu sore. Makanannya udah dingin.”
“Oke, deh,” aku bangkit, menggerakkan badan yang terasa kaku. Sebelum aku sempat melangkah, dia menahan tanganku. “Sini dulu,” dia menarikku, mencium bibirku singkat. “Cepetan ya? Aku udah laper nih.”
“Lapar beneran atau lapar yang lain, nih?” Aku balas menggoda. Kak Ratih cuma ketawa. “Dasar mesum!” Dia menepuk pundakku sebelum mendorongku menuju kamar mandi. Aku cuma geleng-geleng kepala, sambil tersenyum.
Setelah selesai mandi, aku langsung menuju meja makan. Aroma masakan Kak Ratih langsung bikin perutku bergemuruh. Aku melihat dia tersenyum bangga di depan hidangan yang sudah tersaji. “Gimana? Enak gak?” tanyanya manja.
“Belum nyoba, Kak, baru liat,” jawabku.
“Makanya, cobain!” Dia mengambilkan nasi dan lauk untukku, meletakkannya di piring. “Aku gak sabar, pengen lihat kamu makan lahap.”
Saat aku mulai menyantap hidangan, Kak Ratih malah beranjak dari kursinya, mendekat dan duduk di sampingku. Dia sengaja mepet, sampai kakinya menempel ke kakiku. Aku pura-pura gak peduli, tapi fokusku jadi buyar. “Ih, kenapa, sih? Tiba-tiba duduk di sini?” tanyaku.
“Gak boleh, ya? Aku kan pengen nemenin kamu makan, biar lebih romantis,” bisiknya pelan. “Lagian, aku kangen banget sama kamu. Kangen dipeluk, kangen dicium, kangen semuanya.”
Aku tersedak nasi, kaget dengar pengakuannya yang blak-blakan. “Kakak, ngomong apa, sih? Aku lagi makan, lho.”
“Biarin,” jawabnya, “lagian, aku udah gak tahan.” Tiba-tiba, tangannya bergerak, menyelinap ke bawah meja makan, lalu dengan santai menyentuh pahaku. Jari-jarinya naik, perlahan mengusap pahaku. Mataku membelalak, kaget sekaligus senang. Kak Ratih hanya tersenyum nakal, seolah menikmati ekspresi tegangku. Aku pura-pura makan, tapi nafsu makanku sudah hilang. “Kak… jangan gitu,” bisikku.
“Kenapa? Enak, kan?” tanyanya, tangannya mulai meraba kemaluanku. Aku langsung menahan tangannya. “Kakak, aku lagi makan!”
“Aku gak peduli,” bisiknya lagi, “aku cuma mau kamu.”
Dia langsung berdiri, menarikku dari kursi. “Udah, gak usah dilanjutin makannya. Aku udah laper yang lain.”
Aku gak bisa nolak, dia kuat sekali. Aku pasrah mengikuti langkahnya. Dia membawaku ke ruang keluarga, lalu mendudukkan aku di sofa. Aku langsung memeluknya. Dia membalas pelukanku. “Aku kangen,” bisiknya lagi.
“Aku juga, Kak,” kataku.
Kak Ratih menciumku dengan penuh gairah. Tanganku langsung meremas pantatnya. Dia mendesah pelan. “Mmh.. Deekk.. aah.. aku kangen sama ‘punyamu’,” bisiknya di telingaku. “Aku juga, Kak,” jawabku.
Tanganku langsung meraba-raba putingnya yang menonjol, memilinnya pelan-pelan. Dia mendesah panjang. “Eehh.. Deekk.. enak.. ahh.. pelan-pelan.. mmh.. aah..”
Aku makin semangat, tanganku gak mau diam. Aku pindahin tanganku ke bawah, langsung meraba vaginanya yang sudah basah. Lendirnya bikin aku tegang. Kak Ratih mendesah lagi. “Ooh.. Deekk.. di situ.. aah.. terusin.. aku mauu.. aah.. aku mau keluar, Dek.. aah.. aku gak tahan..”
“Aku juga gak tahan, Kak,” kataku.
Tanpa banyak bicara lagi, kami berdua bangkit. Aku menggendongnya menuju kamar mandi. Kak Ratih melingkarkan kakinya di pinggangku, dan aku bisa merasakan napasnya yang memburu. Di kamar mandi, dia melepaskan handuk yang dia pakai, memperlihatkan tubuhnya yang sempurna di bawah remangnya cahaya.
0 Komentar